Selasa, 01 Februari 2011

A. ANOREXIA NERVOSA

Yaitu perilaku seseorang yang berhubungan dengan :

1. Menolak mempertahankan berat badan minimal.

2. Sangat takut terhadap kegemukan meskipun berat badannya sudah kurang.

3. Mengeluh merasa gemuk meskipun sebenarnya sudah sangat kurus atau merasa bahwa suatu bagian tubuhnya terlihat gemuk.

Anorexia nervosa lebih banyak ditemukan pada wanita (95 %), remaja hingga usia 30 tahun, dan ada kecenderungan disebabkan oleh pola makan keluarga yang sering mengalami keadaan stres.

Tanda-tanda terjadinya Anorexia Nervosa antara lain :

1. Menggolong-golongkan makanan yang baik dan makanan yang dianggap jelek bagi tubuhnya.

2. Menghindari pertemuan yang menyediakan makanan.

3. Pikiran selalu tertuju pada masalah makan, kalori dan berat badan.

4. Berat badan menurun drastis.

5. Berlatih keras dan tidak mengenal lelah.

6. Tiba-tiba berniat tidak makan daging warna merah.

7. Takut nikah.

8. Tidak datang bulan (wanita), biasanya selama tiga bulan berturut-turut.

9. Rambut rontok.

10. Denyut nadi lambat dan lemah.

11. Sensitif pada suhu dingin.

12. Gugup saat makan.

13. Mudah menangis.

14. Memotong makanan menjadi kecil-kecil dan memain-mainkannya.

15. Memakai baju berlapis-lapis.



B. BULIMIA NERVOSA

Yaitu perilaku seseorang yang berhubungan dengan makanan, ditandai dengan hal-hal berikut :

1. Pengulangan makan cepat, banyak dan lahap dalam waktu tertentu minimal dilakukan 2 kali/minggu dan paling sedikit 3 bulan sekali.

2. Munculnya perasaan tidka mampu mengontrol perilaku makan selama makan dengan lahap dan banyak tersebut.

3. Memuntahkan kembali makanannya mengggunakan obat-obatan pencahar atau diretikum. Umumnya, pemuntahan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, bisa 20 kali/hari atau lebih

4. Berdiet ketat atau berpuasa, berlatih olahraga keras.

5. Evaluasi dan perhatiannnya pada berat badan sangat sering dan intensif.



Gangguan perilaku makan baik anorexia nervosa maupun bulimia nervosa, mengakibatkan hal-hal seperti berikut :

1. Defisiensi nutrisi dan anemia.

2. Berkurangnya massa otot dan menurunnya fungsi otot.

3. Cadangan glikogen menurun.

4. Depresi.

5. Toleransi terhadap udara dingin menurun.

6. Menyebabkan amenoria sehingga menurunkan densitas tulang dan berakibat osteoporosis.

7. Pada pria menurunkan hormon testosteron.

8. Defisiensi mineral dan elektrolit sehingga dapat mengganggu fungsi jantung dan saluran cerna seperti sembelit dan kembung.



Gangguan perilaku makan seperti ini bisa diobati. pengobatan disesuaikan dengan tahap gangguan yang dialami penderita. ada beberapa tahapan, gangguan tahap awal dan gangguan tahap komplikasi berat.



Gangguan tahap awal :

Pengobatan atau pencegahan dapat dilakukan melalui pendidikan gizi serta pengobatan medik, dietik dan psikologik.



Gangguan komplikasi berat :

Pada pasien yang mengalami gangguan perilaku makan yang berat sampai terjadi usaha bunuh diri perlu dilakukan perawatan, meliputi menghilangkan faktor dietik yang dapat memicu makan banyak dan lahap, mengupayakan pola makan yang normal, dan mengubah sikap abnormal tentang makanan, berat badan dan diet.

Para penderita gangguan perilaku makan perlu mendapatkan penyuluhan (konseling) secara sungguh-sungguh untuk mengembalikan kepercayaan dirinya sehingga dapat kembali pada keadaan normal. Untuk melakukan konseling, hal-hal berikut perlu diperhatikan :

1. Kenali tanda gangguan secara cermat.

2. Kemukakan bahwa anda menaruh perhatian untuk membantu permasalahan penderita secara hati-hati.

3. Jangan membicarakan berat badan dan kebiasaan makan secara langsung kepada penderita.

4. Hibur secara lembut bahwa seharusnya penderita tidak bersikap sepereti itu.

5. dukung dan dengarkan keluhan dengan simpatik.

6. Batasi harapan anda/jangan menentukan target untuk segera dapat menyembuhkan penderita.

7. Akui bahwa cara makan anda juga bermasalah.

8. Sabar, sadari bahwa penyembuhan masalah tersebut berat dan butuh waktu lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar